Kelas IV

Kelas Daring #1

Sejarah Ruang Putar:
Festival dan Ruang Alternatif di Indonesia

Eksplorasi terhadap sejarah ruang putar bisa menjadi kesempatan untuk mengkaji elemen-elemen kunci festival film yang terkait dengan program, pendanaan, hubungannya dengan industri film, dan kota di mana festival film berada. Berangkat dari pengalamannya dalam kapasitas independen maupun kelembagaan, kekuatan praktik pemrograman film dicatat dengan baik dalam lanskap budaya melalui ruang-ruang seperti festival film, ruang putar alternatif, hingga bioskop. 

Memandang ruang putar film bukan lagi sekedar membicarakan bioskop sebagai satu-satunya etalase pertunjukan film, meski periodisasi kehadiran bioskop dinggap sebagai salah satu penanda perkembangan industri film itu sendiri. Namun, tumbuhnya ruang pertunjukan film alternatif mengubah konsep “galeri” menjadi “ruang publik” yang berdasar pada praktik kritis pemrograman film sehingga film dapat dinikmati sebagai karya seni itu sendiri. Hal tersebut menandai fase baru dalam pengertian ruang alternatif.

Baru-baru ini telah banyak kursus maupun program studi film dan media yang beriringan dengan tumbuhnya ruang pertunjukan film alternatif dan festival, baik secara tematik maupun praktik yang terkait dengan kebijakan pemerintah untuk mempromosikan industri kreatif – mengingat fakta bahwa ruang pertunjukan film mampu menghasilkan produksi pengetahuan melalui tontonan film. Berkaitan dengan pertumbuhan itu, lantas, bagaimana memanfaatkan festival film dan ruang alternatif secara pedagogis?

Pemateri
Lisabona Rahman

Lisabona Rahman merupakan seorang konservator film dan  juru program film. Ia mengawali kerjanya di bidang film sebagai penulis resensi di The Sunday Jakarta Post pada tahun 2005. Lalu ia mengelola bioskop terprogram pertama di Indonesia, kineforum Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 2006 sampai 2011. Paralel dengan kegiatan di bioskop, ia bergabung ke katalog daring filmindonesia.or.id bersama kritikus JB Kristanto untuk mendokumentasikan perkembangan industri film Indonesia. Lisabona kemudian menempuh pendidikan khusus di bidang pelestarian film dan kuratorial di Belanda. Sesudah menyelesaikan studinya, ia bekerja sebagai teknisi restorasi film. Saat ini ia bekerja lepas untuk berbagai proyek restorasi atau perawatan medium seluloid sambil membuat program pemutaran film.

Moderator
Joned Suryamoko

Joned Suryatmoko merupakan seorang seniman yang tertarik dengan isu kewarganegaraan, termasuk isu gender dan seksualitas di dalamnya. Ia bekerja sebagai Direktur Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia, sebuah konferensi untuk memproduksi dan menyebarkan pengetahuan pertunjukan bersama seniman, praktisi dan juga akademisi. Joned merupakan kandidat doktor Program Theatre and Performance di City University of New York, sekaligus Graduate Fellow Asian Cultural Council.